Senin, 06 Juli 2015

Filsafat TIK


Menarik sekali status Om Wijaya Kusumah:

"Salah satu alasan TIK tidak bisa jadi mata pelajaran di kurikulum 2013 adalah materi TIK terus berkembang dan fasilitas komputer di setiap sekolah kecanggihannya berbeda beda. Pemerintah sulit membuat materi TIK yg sama di setiap sekolah. Bisakah alasan ini disanggah?"

Jawabnya bisa om :
Sekarang mari kita kaji dari segi Filsafat TIK :

Senada dengan Mulok (Muatan Lokal) yang materinya disesuaikan engan keadaan setempat. Prakarya dan Kewirausahaan pada materi budidaya atau Membuat Masakan khas daerah, kan materinya disesuaikan dengan ciri khas daerah setempat. Misalnya Jakarta bisa bikin Kerak Telor atau Soto Betawi, Palembang : Pempek. Jambi : Tempoyak, Papua : Papeda, Makasar : Soto Makasar.

Sulitkah pemerintah membuat materi Prakarya? Tidak. Kenapa? kalau materinya disamakan, tentu akan terjadi kerancuan dan kecauan tentang masakan khas daerah, tapi setiap daerah bisa mengembangkan materi prakarya yang sesuai dengan keadaan daerahnya.

Kita lihat akar pokok mapel TIK. Tahun 1994 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengambil kebijakan : Komputer wajib diberikan kepada siswa sekolah menengah (pertama dan Atas). Sehingga pada saat itu dana mengucur untuk setiap provinsi guna pengadaan fasilitas komputer. Lalu setiap siswa yang dulunya wajib memiliki keterampilan (yang semula) mengetik, mulai beralih ke kursus komputer. Selanjutnya bertahap pemerintah mulai mengkaji komputer sebagai mata pelajaran, itu dikaji hingga tahun 2004 diluncurkan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dimana di dalamnya tertera mata pelajaran TIK sebagai mata pelajaran tersendiri Saat itu pemerintah sangat berambisi membekali siswa untuk melek teknologi, sehingga kajian kurikulum TIK terus di kembangkan sesuai dengan perkembangan.
Awal mulanya DOS (Disk Operating System) besutan Microsoft, Wordstar, dan Lotus menjadi dasar pokok pelajaran. Namun tahun berikutnya mulai diperkenalkan Windows 3.0 dengan Microsoft Office 4.0 sebagai langkah pengembangan materi TIK. Tahun berikutnya mulai muncul MS Windows 95, 98, ME, 2000, Windows 2003, Windows XP, hingga sekarang MS Windows 8.1 dan System Operasi open source Linux. Demikian dengan Office, dari Office 4.3 menjadi Office 95, MsOffife 97, Office XP, Office 2000, hingga Office 2013. Bahkan melalui system tersendiri Lenovo menggebrak dengan meluncurkan KingOffice yang merupakan derivate Office 2010.
Bagaimana pemerintah menutup mata dengan perkembangan kedua materi tersebut (MS Windos dan MS Office)?

Kalau hanya masalah sekolah tidak mampu mengikuti perkembangan materi dan perkembangan kecanggihan komputer… tidak habis fikir penulis dibuatnya. Kenapa? Bukankah materi TIK bisa diberikan sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerah setempat… Maksud penulis begini : Di daerah saya (Jambi) ada daerah terpencil, namun lihatlah HP sudah merajalela dengan fasilitas internet di dalamnya. Facebook bukan barang asing bagi mereka. Atau komputer yang ada di daerah tersebut masih setaraf Pentium IV (bagi mereka sudah sangat canggih). Mereka bisa tahu mengetik dengan Word sambil tidak lupa update ‘berita’ tentang perkembangan system operasi, program office, program grafis dan lain-lain. Serta belajar secara mandiri tentang jaringan. Namun disesuaikan dengan keadaan setempat… Maksudnya, kemampuan sekolah untuk mengupgrade komputer memang belum memadai, namun dengan komputer seadanya dan software yang terinstal sudah out of date… namun materi TIK tetap bisa dipelajari oleh siswa. Tidak harus dengan komputer canggih setara i.7 atau lebih tinggi.

Sekarang bagaimana pemerintah bisa memfasilitasi pengembangan daerah tersebut? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar